Bupati Dosmar Banjar Nahor: Tidak Ada Hutan Adat Di Humbang Hasundutan.

banner 120x600
banner 468x60

Humbang Hasundutan- Buntut dari pemasangan plang di wilayah adat Komunitas Aek Nauli “Hutan Adat Bukan Hutan Negara” Bupati Dosmar Banjar Nahor adakan sosialisasi dengan masyarakat untuk percepatan pengembangan Food Estate dan Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Humbang Hasundutan, bertempat di Gereja HKBP Aek Nauli Pada 16 Mei 2024.

Dalam kegiatan itu Dosmar Banjar Nahor memberikan beberapa pernyataan yang melukai hati masyarakat adat di Humbang Hasundutan salah satu nya petani kemenyaan, Dosmar mengatakan bahwa di Humbang Hasundutan pemerintah tidak mengakui hutan adat. “Hutan di Kabupaten Humbang Hasundutan seluruh nya hutan negara, Jika Masyarakat ingin diakui hutan nya silahkan mengajukan TORA”. Kata Dosmar.

Jangan Lewatkan :  GMKI Cabang Tarutung Desak Pemkab Taput, DPRD Dan Polres Taput Untuk Mengusut Video Mesum Diduga Indra Simaremare Sekda Taput Dengan Bawahannya

Akibat dari pernyataan itu masyarakat menilai bahwa Dosmar berusaha untuk mengaburkan peradaban Bangso Batak di Humbang Hasundutan salah satu nya sejarah terbentuknya Aek Nauli yang telah di tempati jauh sebelum terbentuk nya NKRI sesuai bukti peninggalan leluhur mereka. Seperti:, Hutan Kemenyaan, Makam pendahulu lebih dari 10 Generasi,dan situs peninggalan lainnya sebagai pendukung sejarah mereka. “Kami sudah lama tinggal di Aek Nauli jangan karena untuk memuluskan program pusat, Bupati itu mengusik kami”.ungkap Lammanganju Lumban Gaol tokoh adat Aek Nauli. Ditambabkan nya, ” Jika hutan itu tidak milik kami, lalu hutan siapa? Sebelum terbentuknya NKRI ompung-ompung kami dulu sudah terlebih dahulu ada disini dan Hutan Kemenyaan itu adalah salah satu sumber kehidupan bagi kami, Bukan Food Estate ataupun TSTH2. “.

Jangan Lewatkan :  Tidak Senang Diperlakukan Kasar Oleh Oknum Pegawai BPN Tanah Karo Faudu Halawa SH Menempuh Jalur Hukum

Samuel Purba Ketua PH AMAN Humbang Hasundutan mengatakan Bupati sudah terlalu maju mengatakan hal itu kepada masyarakat, karena menurut Samuel ketika masyarakat menyetujui program itu secara pelan pelan tanah adat Aek Nauli akan kehilangan jati diri nya dan penurunan penghasilan ekonomi, penebangan pohon kemenyaan dan pohon lainnya akan semakin marak sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan karena alihfungsi hutan menjadi tanaman Food Estate dan TSTH2. “Itu pembodohan dan harus kita lawan bersama”.Ungkap Samuel.

banner 468x60